Wednesday, May 14, 2008
11:48 AM
When The Moon Saw
Bulan cemerlang malam ini.
Putih, bundar hampir sempurna dan tak tampak cacat oleh kawah-kawahnya karena ia bersinar kemilau mengalahkan bintang-bintang yang bertaburan di sekitarnya. Dari sudut pandang seorang gadis kecil yang duduk sendirian bertopang dagu di salah satu tempat tertinggi di Hogwarts itu. Hanya untuk memandang si bundar cemerlang.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam tatkala Arianne terbangun di ranjangnya, sejam yang lalu. Tanpa simbahan keringat, tanpa engahan napas, tanpa pelebaran pupil di mata cokelatnya, dan tanpa bayangan mengerikan berkelebat di benaknya. Dan nyaris tanpa berpikir maupun berkehendak, tubuhnya telah bergerak otomatis. Bangkit dari tempat tidur, merapikan gaun tidurnya, memakai mantel panjangnya dan kaus kakinya sebelum menyusupkannya pada sandal, dan menyambar boneka kelincinya ke dalam dekapannya. Rambut panjangnya dibiarkannya tersembunyi dalam mantelnya, melindungi tengkuknya dari udara dingin. Dan sekali lagi, Arianne menelusuri koridor-koridor kosong, tanpa bantuan cahaya tongkat kini, hanya dipandu sinar lembut rembulan yang menyusup melalui jendela-jendela berangin. Dan sampailah ia di menara ini lagi.
Entahlah, menara ini seakan memanggilnya kembali. Atau memori yang memanggilnya. Setelah mengikuti Cassandra ke tempat ini, dan bercerita untuknya, memori mengenai cerita Maurice padanya memenuhi benaknya. Sebuah cerita tentang gadis kecil manusia serigala yang kesepian. Sebuah cerita tentang Sang Bulan yang bercerita pada si gadis kecil agar ia tak merasa kesepian, cerita tentang kejadian-kejadian yang ia lihat tatkala ia mengitari bumi. Sebuah cerita berbingkai berjudul When The Moon Saw.
Arianne begitu larut dalam kisah-kisah itu, yang membuatnya melupakan semua masalahnya untuk sejenak, seperti Wita, si gadis kecil manusia serigala yang selalu dikunjungi Sang Bulan tiap malam purnama. Setiap detilnya terekam jelas dalam sel-sel otaknya. Jubah Kelabu Myristica, Jane dan Joshua si keabadian terkutuk, Witania dan Owen, Whitemoon dan Yellowmoon, Alas Roban, Katrina dan Patrick... Semua ia hapal dalam benaknya, dan dalam hatinya...
Arianne mendesah panjang, menyamankan duduknya, dan mempererat dekapannya pada si boneka kelinci, sementara matanya kembali memandang ke atas. Ia mengerti salah satu alasan kenapa ia kembali ke tempat ini. Menara ini tempat yang sempurna untuk melihat bulan di atas sana. Bulan bulat yang ia harap mau bercerita padanya juga tentang apa saja yang ia lihat di berbagai tempat, seperti ia mau bercerita pada Wita. Arianne mendesah panjang lagi, dan menatap bulan lagi.
Bulan cemerlang malam ini, dan sinarnya memantul pada bola mata cokelat seorang gadis kecil yang terus memperhatikannya.
***
"Bonjour. Apa yang kau lakukan di sini malam-malam begini?"Sebuah suara halus yang cukup untuk membuat Arianne memutar kepalanya, dan menemukan Blanche sudah berdiri di sana sambil tersenyum padanya. Arianne menahan diri untuk tidak mengangkat alis, dan hanya bisa melempar sorot mata bukan-urusanmu tanpa sempat mengucapkan apa-apa, karena Blanche telah mendahuluinya, meletakkan sepotong sandwich di tangannya yang terletak di pangkuannya -tangan yang lain memeluk boneka kelincinya- dan menambahkan,
"Kalau kau lapar." Tepat saat itu terdengar bunyi kriuk dari suatu tempat di dekat situ. Arianne memiringkan tubuhnya sedikit untuk melihat ke asal suara.
Seorang anak perempuan berambut hitam pendek seumurannya berdiri dekat ambang pintu. Arianne tidak tahu siapa namanya, karena ia memang tidak -berminat- berkenalan dengan anak-anak perempuan. Kalaupun ia tahu, itu hanya dari obrolan orang lain saja. Ia hanya kenal dengan Talented, dan Cassandra yang tempat tidurnya bersebelahan. Arianne juga beberapa kali tidak mengikuti kelas karena ia harus 'mengunjungi' rumah sakit. Ia bahkan melewatkan dua kali pelajaran terbangnya dan latihan Quidditch bersama. Bodoh.
"Kau mau?" tanya Arianne, suaranya terdengar berdenting karena keheningan malam itu, gelombangnya menggetarkan partikel udara di sekitarnya, hingga sampai ke tempat si anak perempuan. Arianne melihat sekilas lagi pada Blanche, kemudian memalingkan wajahnya, menatap keluar lagi, ke arah Sang Bulan. "Jangan dekat-dekat denganku kurang dari dua meter," ia seakan berbicara dengan angin, meski tentu saja kalimat itu ditujukan pada Blanche. Sunyi sejenak. "Aku tidak mau berurusan dan bertengkar denganmu dan membuat Yusuke benci padaku."
Tengah malam. Namun langit makin cemerlang dengan para benda langit melawan kekelamannya. Arianne meletakkan dagunya di puncak kepala si boneka kelinci, dan bergumam tanpa komando dari otaknya, "Bulan cemerlang malam ini."
***
Angkuh, pemilih, berpikiran sempit. Pandangan Arianne mengenai orang Prancis, yang diyakininya benar, karena ia telah mengalaminya sendiri. Contoh kasus terpapar di hadapannya selama hidupnya, jadi pandangannya sudah mendarah daging. Mungkin orang Prancis yang tidak seperti itu hanya Maurice, yang bahkan Arianne ragukan, karena orangtuanya tinggal di Jerman. Tapi pandangannya mengenai orang Prancis secara umum sudah tak bisa diubah lagi. Ayahnya, ibunya, anggota keluarga ayahnya, sudah memberikan gambaran cukup jelas seperti apa orang Prancis sebenarnya. Angkuh sehingga tak bisa melihat ikatan keluarga yang terjalin antara mereka. Pemilih sehingga membuang yang 'tidak berkualitas seperti mereka', bahkan mereka yang seharusnya disayangi. Berpikiran sempit, sehingga hanya mau menganggap keluarga pada yang segolongan dengan mereka, hanya bisa melihat dari satu sisi.
Setelah sedikit insiden pengeroyokan di halaman oleh gadis-gadis menyebalkan itu, dan percekcokan dengan Blanche, serta teguran dari Yusuke, yang meskipun dikatakan dengan sangat halus, namun kini Arianne menjaga jarak dengan semua orang Prancis, yang hanya bisa menimbulkan masalah baginya. Terutama dengan Blanche, yang merupakan teman Yusuke, sehingga salah-salah Arianne bisa disalahpahami lagi oleh Yusuke. Ia tidak mau Yusuke marah padanya, dan ia sendiri heran, kenapa Yusuke bisa berteman dengan tukang-obral-senyum macam Blanche. Tapi akhirnya, ia melaksanakan apa yang dirasakannya benar. Di koridor, di Aula, di tangga, di mana-mana, Arianne berusaha tidak berpapasan ataupun mendekatinya. Ia tidak mau bertengkar dan mengucapkan kata-kata sinis lagi pada anak keras kepala itu.
Tapi nyatanya usahanya jadi sia-sia sekarang. Entah Blanche menguntitnya, atau takdir mempermainkannya, malam ini, di saat seharusnya tidak ada orang yang berkeliaran karena takut dengan detensi dan hantu dan semacamnya, ia malah bertemu Blanche, dan seorang anak perempuan berambut pendek. Yang diharapkannya hanyalah bahwa mereka tidak akan bertengkar, dan si anak perempuan tidak akan melaporkan hal yang aneh-aneh pada anak-anak lain. Kalau ada guru atau malah Mr. Filch yang dengar kalau mereka berkeliaran, bisa gawat. Detensi dan pengurangan poin sudah jelas menunggu mereka. Ditambah pertengkaran, maka sepertinya hukuman akan jadi dua kali lipat. Tapi anak Prancis itu memicunya.
“Begitukah? Aku yakin Yusuke bahkan tidak peduli apapun yang kau lakukan, Madamoiselle,”Raut muka Arianne mengeras sesaat, kemudian dengan cepat tersembunyi dalam tenangnya, ketika ia memandang langit berbintang yang tak membosankan. Kalau saja ia tak ingat situasi, ia akan segera mendebatnya, atau kalau perlu membentak-bentaknya dan memukulnya karena sudah jadi anak sok tahu. Tapi tidak, ia menahan diri. Provokasi macam itu tidak boleh membuatnya hilang kendali, lagipula ia yakin bahwa Yusuke akan peduli. Arianne tahu itu.
Blanche tidak mempedulikan kata-kata Arianne, dan dengan seenaknya duduk di lantai di dekat situ. Meskipun tidak melihat langsung, Arianne bisa merasakannya dari desau angin yang terusik di sekitarnya. Tak tahukah ia bahwa lantai itu sangat dingin di musim begini? Atau ia memang bodoh? Blanche menyuruh si anak rambut pendek untuk duduk, yang dipertegas Arianne dengan berkata, "Yeah, duduklah, dan makan. Padahal di Aula Besar tadi banyak makanan." Tidak. Bukan berarti Arianne mengubah pandangannya soal Blanche, ia hanya ikut menyuruh anak yang dari tadi berdiri seperti patung itu untuk duduk. Tapi Arianne segera melupakan Blanche dan anak itu dan kembali memperhatikan bulan, membuatnya terlena bergumam yang tidak-tidak. Blanche menimpalinya.
Arianne mengernyit, ia tidak mengerti apa yang dikatakan Blanche. Mungkin keputusannya yang tidak mau mempelajari bahasa Prancis dan bahasa asing lainnya salah. Ia hanya mengerti satu kata yang diucapkan Blanche, oui berarti ya. Blanche sependapat dengannya bahwa bulan cemerlang malam ini. Tapi sisanya, apa artinya? Arianne melirik Blanche di ekor matanya, berusaha menemukan jawaban, namun nihil.
"Bego, keras kepala," gumamnya tajam, tak mau menoleh menatap lawan bicaranya, sebenarnya kesal karena anak itu tak mendengarnya dan malah duduk di dekat Arianne, tapi ia malah melanjutkan, "lantai itu dingin, tahu. Buat apa kau duduk di situ? Mau masuk rumah sakit supaya bisa bolos pelajaran? Percuma, Madam Pomfrey bisa menyembuhkanmu dalam waktu sekejap."
Mungkin Arianne yang bego, malah membuka pembicaraan, dan dengan kata-kata pedas. Ah, tapi anak laki-laki biasanya cuek dengan hal itu. Kalaupun Blanche marah, itu bagus. Mungkin dengan begitu ia akan segera pergi dari sini. Sementara itu, Sang Bulan masih bersinar di langit kelam. Arianne memandangnya hampa.
Apa kau akan menceritakan kisahku juga pada Wita? bisiknya lirih.
***
Anak aneh. Ia datang, tinggal tak lebih dari satu menit, bergumam tak jelas, lalu pergi. Seperti angin saja. Dan sandwich yang Arianne tawarkan tidak diambilnya.
Bodoh, tidak mengambil kesempatan saat ditawarkan, batinnya cuek. Hahh... Peduli amat. Mungkin anak itu pergi untuk mengendap-endap di dapur. Arianne memegang sandwichnya di tangan kanannya sementara tangan kirinya memeluk si boneka kelinci sambil tetap memandang bulan dalam diam. Sampai didengarnya suara itu.
Anak Prancis bego itu memainkan harmonikanya. Di menara astronomi ini. Di tengah malam. Di kesunyian yang bisa mengeraskan suara jarum jatuh sampai seratus kali lipatnya.
Arianne tak tahu lagi, siapa yang lebih bodoh, Blanche yang bermain harmonika, atau dia yang pergi ke menara astronomi tengah malam begini?
Tangannya segera melepas boneka kelincinya, yang jatuh ke pangkuannya, ia memutar dan mencondongkan tubuhnya ke arah Blanche sementara ia tetap duduk dan menjadikan ujung kakinya sebagai tumpuan. Arianne merebut harmonika dari tangan Blanche dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggunakan sandwich menutup mulut anak itu yang baru saja mengatakan ia tidak perlu dikhawatirkan.
"Dasar bodoh!" desisnya marah, "Apa yang kaupikirkan, hah? Main harmonika tengah malam begini! Kalau... Kalau ada yang terbangun..." matanya melebar sesaat, sebelum menyadari bahwa ia telah bicara terlalu jauh. Pikirannya terbawa pada cerita Sadewa yang didengarnya saat pertemuan tengah malam pertamanya. Tentang Elizabeth Bathory. "Kalau ada yang terbangun, bisa gawat!" katanya setelah mendapatkan suaranya kembali.
Kata-kata terakhir Blanche teringat oleh Arianne. "Aku tidak mengkhawatirkanmu," sergahnya sewot, melepaskan tangannya dari sandwich dan tetap memegang harmonika yang direbutnya. Tentu saja tidak, ia tadi kan hanya menyuarakan sindiran atas tindakan bodoh Blanche yang duduk di lantai. "Kalau Mr.Filch mendengarnya, dan ke sini, kita berdua bisa didetensi. Jadi kalau mau tetap hidup, diam dan makan sajalah," lanjutnya sambil memandang galak Blanche.
***
Denting tawa berirama menyambut protes marah yang disuarakan Arianne. Arianne menampakkan wajah tenang namun terganggu melihat respon anak laki-laki itu. Tawanya akhirnya mereda, disusul jawabannya,
"Well, aku tadi tidak memikirkan apa-apa." Hening sejenak.
"Memikirkanmu mungkin," lanjutnya sambil kembali tertawa kecil,
"Tenang saja tidak akan ada yang bangun karena kita agak jauh dari menara asrama.""Ha! Itulah perbedaan kau dan aku!" serunya sambil menuding Blanche dengan telunjuknya. Yeah, perbedaan seorang Gryffindor yang tak pernah berpikir panjang dan Ravenclaw yang menggunakan nalarnya untuk memperhitungkan dan menilai keadaan sekitarnya. "Gunakan otakmu. Yang ada di kastil ini bukan cuma manusia, ada hantu-hantu, lukisan-lukisan, kucing si Tua Filch, dan Mr. Filch sendiri yang tampaknya bisa muncul dua detik setelah kucingnya memanggil. Kalau salah satu dari mereka terbangun, maka bersiaplah untuk yang terburuk."
Arianne memutar tubuhnya ke arah luar lagi, bersidekap memeluk bonekanya, harmonika tergenggam di salah satu tangannya. Ia baru sadar, bodoh sekali dia membawa bonekanya ke luar begini. Tapi boneka ini pemberian Maurice kala di masa-masa awal kehidupannya setelah kecelakaan naas itu ia tak bisa tidur. Dan hingga kini boneka itu menemaninya. Arianne memeluk boneka itu lebih erat, menghangatkan jari-jarinya yang kebas. Dibenamkannya wajahnya ke balik kepala si boneka, hanya matanya yang tampak di antara kedua telinga panjang si kelinci. Ia dapat merasakan kalau mulutnya mengeluarkan uap putih tipis jika ia bernapas. Sepertinya besok ia harus mengunjungi Madam Pomfrey lagi. Musim dingin memang menyebalkan.
Kamu... benci orang Perancis?"Pertanyaan itu menghantam Arianne yang tengah sibuk memikirkan hal lain. Rekor, ia tidak memandang bulan lima menit penuh. "Ya," jawabnya dingin. Ia terdiam sejenak, kemudian melanjutkan dengan nada sama tenangnya, "karenanya kau sangat bodoh. Sudah kubilang, jangan dekati aku kurang dari dua meter. Aku tak bisa menjamin aku tak kan melemparmu dari menara ini."

Saturday, April 26, 2008
12:38 PM
When Green Becomes Brown
Arianne duduk bersila di depan sebuah pohon besar. Punggungnya tidak bersandar pada batang pohon itu, melainkan agak membungkuk ke depan. Jubah hitamnya telah dilepas, hanya menyisakan kemeja putih dan rok abu-abu yang merupakan seragam sekolahnya disamping jubah. Dasi biru terangnya agak dilonggarkan karena ia agak kepanasan, namun tetap cukup rapi. Si jubah sendiri telah terlipat rapi di atas tas sekolahnya, yang tergeletak tak jauh darinya. Rambut panjangnya yang jarang diikat, terurai lemas ke belakang, beberapa helaiannya melewati bahunya dan menjurai ke depan, karena ia membungkuk. Arianne tengah mengawasi beberapa benda yang tergeletak di hadapannya.
Sebuah gantungan kunci berbentuk bola kecil. Berwarna putih dan berjahit benang-benang merah di antaranya. Sebuah foto hitam putih yang tidak bergerak, berisikan sosok tiga anak bertopi sama, dua laki-laki dan satu perempuan, ketiganya nyengir bangga sambil mengacungkan dua jari mereka -tengah dan telunjuk- ke depan. Sebuah bando kain berwarna pink muda, masih dalam plastik yang membungkusnya.
Ketiga benda itu mempunyai arti bagi Arianne. Ketiganya adalah benda berharganya, yang diberikan teman-temannya tatkala ia akan pindah ke Hogwarts. Sorot mata mereka menyiratkan kesedihan bagai Arianne akan pergi jauh, meski bibir mereka membentuk senyum. Padahal yang bersangkutan merasa bahwa sepuluh bulan takkan lama, toh mereka akan berjumpa lagi. Dipandangnya lagi ketiga benda itu. Sebelum akhirnya Arianne menyenderkan tubuhnya ke belakang, ke batang pohon itu, sambil mengubah posisi kakinya menjadi berselonjor. Ia teringat teman-temannya, yang sekarang entah di mana. Ah, mereka ada di pelupuk matanya, yang sekarang terkatup, ingin terus melihat bayangan mereka.
Awal musim gugur. Saat di mana udara mendingin. Dari yang awalnya panas, menjadi hangat. Kemudian dingin dan beku saat memasuki musim dingin. Awal musim gugur. Kala di mana hari mulai memendek waktu siangnya, karena matahari berotasi dan berevolusi sesuai takdirnya. Awal musim gugur. Ketika hijau berubah menjadi cokelat kering. Ketika Arianne merindukan teman-temannya yang akan mengajaknya bermain dan melompat-lompat di tumpukan daun-daun cokelat kering itu.
***
Pukulan baseball pertamanya yang berhasil melewati pagar lapangan di utara dan dengan sukses memecahkan jendela toko roti. Topi pertamanya yang diberikan oleh Will. Spageti pertamanya yang dibilang enak oleh Mark. Permainan basket pertama mereka dimana Arianne berhasil mencetak angka, meski harus dibayar dengan kakinya yang keseleo. Semua itu bertumpuk di pelupuk matanya, mengalir deras memenuhi ingatannya. Membuat senyumnya mungkin akan terkembang, andai saja ia memang mengalaminya lagi. Namun tidak, Arianne tidak tersenyum, karena ia tahu bahwa ini hanya ingatan belaka. Meskipun ia senang bisa mengenangnya lagi.
"Tumben kau sendiri disini ?Kukira kau sedang dikandang burung hantu. Mengadu pada orang tuamu atau kakekmu ?"Sebuah suara sinis, anak perempuan, membuat Arianne membuka matanya. Kekesalan menjalarinya, si anak perempuan telah mengganggu waktunya yang berharga. Meskipun tidak jelas juga Arianne sedang melakukan apa. Tapi jelas saja, ia tidak suka diganggu, apalagi oleh anak perempuan rese tukang dandan yang bisanya cuma main rumah-rumahan dan boneka-bonekaan. Saat Arianne melongokkan kepalanya untuk melihat siapa yang mengganggunya, ia mengenali wajah si pemilik suara sinis menyebalkan. Anak perempuan yang pernah ditemuinya di tepi danau. Sky Chastain.
Anak bodoh. Dia telah melempar topik yang salah pada Arianne. Pembicaraan mengenai keluarga akan membuat Arianne naik darah, dan menyinggung soal kakeknya akan mengintimidasi Arianne untuk menamparnya, kalau ia telah sangat marah. Arianne duduk tegak dari sandarannya pada pohon, dan memasukkan barang-barangnya dan jubahnya ke dalam tasnya, kemudian menggeser duduknya agar berhadapan dengan Chastain. Dipandangnya anak itu dengan pandangan menilai, apakah pantas untuk dilayani atau tidak.
"Kau tidak tahu slogan sekolah ini ya? Draco Dormiens Nunquam Titilandus. Dalam kasusmu, berarti
Jangan Usik Urusan Orang Lain, " balas Arianne tak kalah sinis, kedua tangannya disilangkan di depan dadanya dengan angkuh. Yeah, dalam hal mencampuri urusan orang, Arianne bisa dibilang seperti ular. Usik, dan kau akan dipatuk. Campuri urusan Arianne, dan kau akan merasakan akibatnya. Arianne tak lemah, meskipun Mark dan Will sering melindunginya.
***
Kedua tangan Arianne tersilang, ekspresinya menantang Chastain yang sepertinya berniat mencari masalah dengannya. Tatapannya sinis, merendahkan sosok anak perempuan Gryffindor yang nampaknya benar-benar tidak punya pekerjaan lain sehingga mengusik Arianne. Seulas seringai nampak di bibirnya, bukan berarti dia senang dengan keberadaan Chastain. Sebaliknya malah. Arianne merasa sangat terganggu, sehingga bisa saja ia lepas kendali, membalas dan mempermalukan si Chastain yang sok tahu itu. Chastain berkata bahwa ia bisa membaca dengan sangat baik sehingga bisa masuk sekolah ini.
Rupanya tak perlu waktu lama. Bahkan Arianne tak perlu turun tangan untuk membalasnya. Sepotong dahan jatuh dari atas pohon, dan menimpa Chastain. Arianne tersenyum sinis melihatnya.
Rasakan! Itu akibatnya kalau kau mencari masalah denganku! batinnya puas. Yeah, Arianne tidak salah apa-apa, sehingga wajar saja bila karma menimpa Chastain. terdengar suara seorang anak perempuan berseru, dan Arianne menengok ke atas. Seorang anak perempuan berambut panjang sedang bertengger di sana layaknya burung, dan meminta maaf dalam bahasa... Prancis? Dan si Chastain juga menjawab dalam bahasa yang sama. Darah Arianne seakan membeku.
Anak yang di hadapannya ternyata orang Prancis, kalau dilihat dari bahasa yang digunakannya. Pantas ia menyebalkan. Yang menyakitkan Arianne, anak perempuan yang menolongnya. Prancis. Kenapa keadilan bagi Arianne dibawa oleh anak perempuan itu? Dan mau apa dia memanjat pohon? Orang Prancis seharusnya tidak bertingkah seperti itu.
"Hai! kau anak yang sama-sama disiksa oleh si maniak pembunuh itu di Leaky Cauldron kan? Senang melihat kalau kau ternyata selamat dari kejarannya." Tampaknya anak perempuan itu sedang bersitegang dengan anak perempuan lain di sana. Suara orang lain yang sepertinya dikenal Arianne. Seorang anak laki-laki beremblem Ravenclaw. Arianne spontan memberinya senyum, antara senyum senang dan kasihan. Senang karena ternyata anak itu belum terbunuh, dan kasihan karena dia senasib dengan Arianne. Pernah akan dibunuh oleh si pasien lepasan St. Mungo. "Hai, Merovingian. Yeah, aku selamat," jawabnya singkat, masih dengan lipatan-tangan-di-depan-dada. Arianne tahu namanya tentu saja. Topi Seleksi menyebutkannya saat malam pertama mereka di Hogwarts. Chastain berkata lagi soal 'satu-satu'. "Kalau kau memang bisa membaca slogan itu, seharusnya kau tidak mengusik orang lain. Kalau kau masih melakukannya, berarti otakmu sudah berkarat saking lamanya tidak kau gunakan," balasnya masih dengan suara yang tenang. Arianne tidak akan terpancing dengan taktik orang Prancis.
***
Arianne memandangi Chastain sinis, memperhatikan dengan cermat agar tidak kalah dan terpancing. Anak di atas pohon membalas dengan sewot kata-kata Prancis Chastain. Dengan bahasa Inggris kini. Tiba-tiba terdengar suara teriakan memanggil seseorang bernama 'Sarbini'. Arianne menoleh, dan mendapati sesuatu melompat-lompat berwarna hijau, ke arahnya.
Kodok? batinnya bingung. Dengan sigap Arianne mengulurkan tangan menangkap makhluk apapun yang menghampirinya itu. Malukhluk itu ternyata berbulu, dan melihat bentuknya, Arianne dapat mengira-ngira, bahwa itu adalah Puffskein. Seperti yang tertera jelas dalam buku yang pernah dibacanya.
Terdengar lagi suara lain. Suara sepertu bunyi kerikil yang dilemparkan ke papan kayu. Pletak! Pletak! Arianne menoleh lagi ke asal suara, yang ternyata... Chastain, entah bagaimana bisa terlempari beberapa benda. Entah apa saja. Arianne memperhatikannya dengan heran, kemudian perasaan ingin tertawa keras melandanya. Arianne menahannya, dan sebagai gantinya -karena ia tak bisa menahan tawanya yang mendesak ingin sekali disuarakan- ia menyeringai lebar, memandang dengan penuh kepuasan. "Balasan untuk kebodohanmu mencari masalah denganku rupanya telah ada, hmmphh..." Arianne mengulum senyum, masih menahan tawanya.
Pandangannya dialihkan pada asal lemparan, atas pohon, dan mendapati bahwa si gadis Prancis- oh, bukan, ada gadis lain lagi, dengan emblem yang sama dengan Arianne, berarti mereka seasrama, dan kemungkinan yang ini kakak kelasnya, karena Arianne tidak pernah melihatnya di kelas. Entah kapan ia datang, namun ia telah siaga dengan ketapel di tangannya. Si gadis Prancis juga nyengir jahil. Jelas sudah bahwa mereka berdua berpartisipasi dalam hal pelemparan Chastain. Arianne mendongakkan kepalanya, dan tak bisa ditahannya ketika akhirnya ia berucap, "Thanks," sambil menyelipkan seulas senyum di bibirnya.
***
"Maaf, bisa kembalikan Puffskeinku yang ada di tanganmu, Miss?"Arianne mengalihkan matanya dari kedua gadis yang bertengger di atas pohon, ke arah suara di dekatnya. Rupanya si gadis pemilik makhluk berbulu hijau yang ditangkap Arianne, entah bagaimana, telah berada di dekat Arianne. Arianne mengulurkan kedua tangannya, dan melempar si Puffskein dengan lembut ke arah si pemilik Puffkein, sambil menambahkan satu kata singkat, "Terserah." Ia tak terlalu peduli puffskein ini milik siapa, dan juga tidak berminat mengambilnya, bahkan jikalau puffskein ini tidak ada pemiliknya.
Perhatian Arianne kembali teralih mendengar seruan lain, suara anak laki-laki kini,
”Mlle, ẽtes-vous bien? Que s’est produit?” Si Anak Prancis. Yang memiliki rambut coklat dan mata biru, anak asrama Gryffindor. Yang sekarang berpakaian bebas, padahal ini hari sekolah. Yang mengambil permen pemberian Yusuke dari kepala Arianne. Yang suka berlaku sok pahlawan. Dan ia melakukannya lagi. Berlaku sok pahlawan di depan Arianne. Bertanya apakah Chastain baik-baik saja.
Kuharap tidak, desis Arianne kejam dalam hati. Salah siapa yang mengusik orang lebih dulu. Arianne memandangi Chastain dengan puas, meski tangannya tak lagi bersidekap, melainkan tergantung di kedua sisi tubuhnya.
Betapa terkejutnya Arianne ketika Si Anak Prancis menghampirinya, merogoh saku celananya sebentar, dan menjejalkan beberapa benda secara tiba-tiba ke tangan Arianne.
”Miss. Maafkan aku sudah mengambil permen lolipopmu kemarin. Aku tidak tahu kau begitu suka permen. Ini ada beberapa permen. Ambillah.” Arianne memandang isi tangannya sejenak. Beberapa buah permen entah apa saja telah ada dalam genggamannya. Selama beberapa detik ia tak melepas pandangannya. Entah kenapa, yang muncul bukanlah rasa terima kasih, setelah melihat demonstrasi kebaikan anak itu. Justru perasaan kesal bercampur kasihan yang muncul ke permukaan.
Ketika akhirnya kepalanya mendongak, menatap kembali Si Anak Prancis, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Pertama," ucapnya dengan suara meremehkan, "kau tak usah sok pahlawan, apalagi di depanku. Kalau kau tidak tahu masalahnya tidak usah sok tahu." Hening sejenak. Arianne menghela napas singkat tanpa terlihat, kemudian melanjutkan.
"Kedua," Arianne melirik tangannya, kemudian menjatuhkan semua permen di genggamannya, senyumnya semakin sinis saat matanya kembali terarah pada Si Anak Prancis, "aku tidak butuh permen-permenmu. Cari saja orang lain yang mau. Dan ketiga," Arianne memandangnya sekilas dari bawah ke atas, barulah setelah itu menatap lagi anak itu, "bukankah sudah kukatakan? Harus berapa kali kuberitahu supaya otakmu mau mengingatnya, eh? Jangan. Usik. Urusan. Orang. Lain." Arianne mendorong pelan dada Si Anak Prancis dengan telunjuknya pada kata terakhirnya, dimana ketajaman suaranya semakin meningkat seiring menuju akhir. Mengingatkannya, bahwa ia akan tersayat jauh lebih dalam jika mencoba mencampuri masalah lebih besar yang bukan miliknya. Tak ada beban lagi. Arianne tidak ingin berada selingkungan dengan orang-orang sok ini lagi. Ia berbalik untuk mengambil tasnya dan pergi menjauh sesegera mungkin.
***
Arianne segera berbalik, meniatkan dirinya untuk pergi secepatnya. Mungkin sekalian menarik Merovingian pergi agar mereka bisa bermain atau membaca buku bersama. Namun belum selangkahpun berhasil dibuatnya, tangannya sudah tersentak keras, ditarik seseorang dari belakang, membuatnya terhuyung dan berbalik, hanya untuk mendapati bahwa Si Anak Prancis menahan bahu Arianne dengan lengannya agar tidak jatuh, dan itu memang menghindarkan Arianne dari kemungkinan jatuh. Tapi...
Arianne mendongak. Dan detik berikutnya ia sadar akan satu hal: posisi mereka sangat dekat. Terlalu dekat, malah.
Ia mendapati bahwa wajah Prancis itu tidak sedang tersenyum bodoh atau menampakkan ekspresi sok pahlawan seperti tadi. Yang ada hanyalah wajah serius dengan tatapan tajam mencari. Sudut-sudut bibir Arianne berkedut, sedikit tersenyum miris, matanya balas memandang galak, menembus lautan biru di bola mata lawannya, sorot dingin tak hilang dari iris matanya yang berwarna coklat, beku. Seakan bertanya menantang,
jadi kau mau apa, heh? Arianne sama sekali tak takut padanya, meski kelamaan sorot mata biru itu seakan menuntut yang lain, entah apa, membuat Arianne gelisah. Ia sudah akan berteriak minta dilepaskan ketika dirasakannya tekanan di bahunya Melemah. Arianne mundur beberapa langkah. Mengatur kembali desah napasnya.
"Ehm, sorry 'bout that. Aku hanya tidak ingin kamu membenciku gara-gara permen."Ia masih di sana, senyum bodoh dan wajah ramah palsunya telah kembali. Dan kata-kata tak berarti meluncur dari mulutnya, lagi. Tak perlu dipertanyakan lagi, Arianne membalasnya dengan tatapan benci, kata-katanya kini dikeraskan, setengah menghina. "Apakah menarik seseorang, mencengkeramnya, kemudian menatapnya dengan pandangan bego adalah cara orang Prancis meminta maaf? Mengagumkan sekali," ejek Arianne sarkastis. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan satunya yang sakit karena ditarik. Kemeja putihnya kini tak lagi rapi akibat insiden penarikan itu. Rambut coklatnya tak beraturan, helai-helai terluarnya ditiup angin.
"Sedang apa kau dengan dia?"Teriakan seorang anak perempuan menggaung di tengah ketegangan yang terjadi. Arianne menoleh. Si nona-pirang-bangsawan-Prancis-yang-angkuh rupanya. Yang pernah ditemui Arianne di Leaky Cauldron. Ia menunjuk-nunjuk Arianne, yang dibalas Arianne dengan ekspresi tak suka. Tak lama, suara anak perempuan lain terdengar, mendesis pada Arianne dan menyapa ramah pada Si Anak Prancis. Blanche, rupanya itu namanya. Anak perempuan pirang yang sempat sekompartemen dengan Arianne. Arianne mengernyit kesal melihat kedatangan kedua orang itu. Dan digantikan oleh ekspresi murka tatkala pemahaman menguasainya.
"Jadi ini alasan sebenarnya kau menarikku, eh? Supaya aku tidak pergi dan teman-temanmu datang dan bisa mengeroyokku?" seru Arianne marah, menatap dingin semua pendatang baru itu. Ia tidak suka dikeroyok. Sudah cukup pengalamannya dengan hal itu, terlebih ketika terakhir kali ia melihat Mark terluka parah akibat dipukuli dan Will mengalami shock berat. "Pengecut!" desisnya amat merendahkan.
***
Arianne hanya memandang dingin si gadis pirang yang sempat sekompartemen dengannya itu, yang sekarang menjawab pertanyaan Arianne dengan nada santai, soal bahwa ia tak berniat mengeroyok Arianne karena ia punya otak walaupun dia disebut nona alien imbisil, dan bahwa ia tak mengenal si nona-bangsawan-pirang-yang-angkuh. Ia juga memperkenalkan namanya dengan nada ramah, walaupun ekspresinya lain. Tak sinkron, artinya palsu. Arianne memandang si Roosevelt dengan pandangan menilai. "Ya. Namaku Arianne Ravell. Dan kalau kau memang punya otak, maka kau takkan coba-coba campuri urusanku, Miss Roosevelt. Kecuali kalau kau punya kepentingan di dalamnya," tukas Arianne akhirnya, masih melancarkan tatapan membekukan, sementara tangannya menggosok-gosok pergelangan tangan satunya.
Otak Arianne secara otomatis memutar balik, mengingat apalagi yang dikatakan Roosevelt itu.
Cemburu? Idola? Apa urusannya sampai-sampai harus cemburu pada Arianne? Idola, anak laki-laki Prancis ini? Yang benar saja. Apa bagusnya dia? batin Arianne setengah mengejek. Matanya mengerling pada Blanche, yang ada di antara- eh, kemana dia? Arianne menggerakkan kepalanya sedikit sampai mendapati Blanche ditarik dan diceramahi oleh anak perempuan berambut panjang yang tadinya ada di atas pohon. Sejak kapan ia turun?
"Mademoiselle, maafkan temanku ini,"Si anak perempuan berambut panjang yang sama-sama Gryffindor, seperti Blanche, memintakan maaf untuk anak Prancis itu. Apa karena mereka sama-sama dari Prancis, eh? Memangnya ada soldaritas macam ini di Prancis? Antar-teman?
Hmmph, tak mungkin, jika mereka bahkan bersedia memutuskan hubungan hanya karena status darah. Bodoh kau, Arianne, batinnya pahit. Arianne memandang Blanche beberapa saat dengan tatapan masih agak marah, sebelum akhirnya memutuskan.
"Sedang kerepotan, eh, Phil? Memang susag kalau punya banyak penggemar.
Arianne, Kamisama, ada apa dengan soal keroyok-mengeroyok ini?""Yusuke!" seru Arianne sambil berbalik, hampir tanpa berpikir. Ia memang tak perlu lagi melihat rupa orang tersebut, ia telah hapal dalam dua tiga kali pertemuan. Raut wajahnya berubah senang begitu melihat Yusuke, dan tangannya bergerak memeluk lengan Yusuke. "Dia. Menggangguku," kata Arianne lugas sambil memasang tampang cemberut saat mengalihkan pandangannya ke arah Blanche, "Sudahlah, tak usah urusi dia. Apa yang kaulakukan di sini, Yusuke? Apa kau sudah mendapatkan sapumu? Sayang sekali aku melewatkan pelajaran terbang pertamaku karena dua hari yang lalu aku sakit," celotehnya riang, mengacuhkan semua orang yang ada di sekitarnya. Matanya melirik sekilas, dan menangkap Roosevelt menangis. "Eh, kenapa dia? Cemburu?" celetuk Arianne. Arianne memandangnya sejenak, sebelum menambahkan, "Bukan salahku."
***
"Memangnya minta maaf dibilang mengganggu ya?Arianne mendelik sebal mendengar penjelasan si gadis berambut panjang, yang kemudian diakhiri dengan pertanyaan soal apakah minta maaf termasuk mengganggu. Tentu saja jawabannya sudah jelas, tidak. Tapi jika cara meminta maafnya seperti yang dilakukan Blanche -datang saat Arianne sedang bersitegang dengan orang lain, menjejalinya permen aneh, dan mencampuri urusannya, kemudian lebih jauh lagi, menarik Arianne hingga pergelangan tangannya sakit dan membuat anak-anak perempuan itu berdatangan dan memandang sinis Arianne- apakah itu tidak termasuk mengganggu? Tapi Arianne tidak menjawab atau menimpali sedikitpun. Ia hanya memandang kesal sambil tetap memeluk lengan Yusuke, dan membatin kesal,
Aku bukan anak Asia. Kernyitan heran bercampur kesal menghiasi wajahnya.
Roosevelt menjawab pertanyaan Arianne, bahwa bibinya meninggal gara-gara keracunan. Arianne hanya bisa menatap kosong anak perempuan itu yang kemudian melanjutkan isaknya. Arianne tak begitu tahu rasanya kehilangan bibi. Ia tak pernah mengenal bibinya. Orangtuanya? Dua orang bodoh itu telah mengakhiri hidupnya di jalanan, dan mungkin tadinya berniat mengajak Arianne ikut serta. Tapi maaf saja, Arianne bisa selamat karena sihir-tak-sengajanya bekerja pada saat itu. Ia tak bersedia menemani mereka mati, dan ia tidak sedih atas kematian mereka. Tidak sama sekali...
Blanche memandang Arianne tajam, dan berkata kalau ia takkan mengganggu lebih lanjut, dan kelihatannya Arianne lebih nyaman berbicara dengan Yusuke daripada dirinya, kemudian menarik si anak berambut panjang untuk pergi. Arianne tidak menanggapinya, dan hanya melirik tanpa minat ketika Blanche melewati Roosevelt, mengacak rambutnya. Yang membuatnya terperanjat adalah teriakan si gadis berambut panjang ketika ia sudah berjalan beberapa langkah dari tempat Roosevelt berdiri. Arianne langsung melepaskan salah satu tangannya dari Yusuke, sementara tangan lainnya turun dan menggenggam tangan Yusuke. Arianne melempar pandangan benci pada mereka.
"KAU MENUDUH AKU BERBOHONG? KALAU BEGITU UNTUK APA DIA MENCAMPURI URUSANKU DAN MENARIK TANGANKU SAMPAI SAKIT? APA NAMANYA ITU KALAU BUKAN MENGGANGGU?" Arianne berteriak keras, membalas kata-kata si anak perempuan berambut panjang yang meleletkan lidahnya dengan mengejek itu. "DAN AKU BUKAN ANAK ASIA, AKU ORANG PRANCIS!" tambahnya kesal. Arianne ingin sekali menyangkal fakta ini, ingin sekali bisa mengatakan dengan lantang kalau ia orang Amerika, karena toh ia tinggal sangat lama di Amerika. Tapi kedua orangtua Arianne adalah orang Prancis, itu tak bisa dipungkiri. Dan Maurice takkan mengizinkan Arianne mengakui dirinya sebagai orang Amerika.
Genggaman hangat dalam tangannya mengingatkannya bahwa ia tak sendirian di situ. Arianne menoleh pada Yusuke dan memandangnya. "Kau percaya padaku kan, Yusuke?" katanya sambil melempar pandang bertanya. Ia tak peduli apa kata anak-anak Prancis itu. Tapi ia jelas tak mau disalah artikan oleh Yusuke.
***
"Er... Nona Ravell, kumohon jangan berteriak lagi..." ucapnya, sambil memegangi telinganya yang sakit.Roosevelt bicara lagi pada Arianne, memintanya diam. Tangan Arianne yang menggenggam tangan Yusuke ditarik segera setelah ia berteriak membalas di gadis Gryffindor berambut panjang. Disusul omelan Yusuke yang melarangnya berteriak. Telunjuknya berada di depan mulut, mengisyaratkan hal yang sama. "Tapi, tapi..." Arianne mencoba membantah, tapi tak ayal menutup mulutnya juga. Ia merengut, kemudian memandang sebal lagi kedua anak Prancis itu yang telah jauh.
"Nona, kalau kau mau Ricotta, ambil saja..." ucapnya sambil mengambil sesuatu dalam sakunya cepat lalu memberikannya pada Ravell. "Aku pergi dulu, aku harus..." terhenti di bagian akhir. "Harus melakukan sesuatu. Bye."Roosevelt tiba-tiba saja sudah ada di dekat Arianne, entah sejak kapan, Arianne tidak melihatnya beranjak mendekatinya. Ia menjejalkan sesuatu bernama Ricotta ke tangan Arianne, kemudian berpamitan. Ia melambai dan segera berlari menuju kastil. Arianne memandangi benda di tangannya, lalu beralih pada Roosevelt yang juga sudah jauh, dilanjutkan melirik Yusuke yang melakukan hal yang sama dengannya, sambil tersenyum tipis. Arianne mengalihkan pandangannya dan memasukkan Ricotta pemberian Roosevelt ke dalam saku roknya,
Genggaman tangan Yusuke pada Arianne terlepas, dan saat Arianne menoleh padanya, terasa tepukan di kepalanya. Tangan Yusuke. Ia menjawab bahwa ia percaya pada Arianne... dan Phil. "Phil?" gumam Arianne bingung, dan baru sedetik kemudian ia sadar bahwa yang dimaksud adalah si Blanche. Berikutnya Yusuke menurunkan tangannya dan menepuk bahu Arianne, dan sambil agak membungkuk agar wajah mereka sejajar, ia bicara lagi.
“aku bicara begitu karena aku percaya pada kalian berdua. Aku tahu kalian jujur. Hanya saja, Phil tak berani berkata apapun karena terlalu banyak yang menyudutkannya. Aku kenal Phil sejak setahun lalu, dan memang itulah sifatnya. Tak suka disudutkan,”
“dan kau, Arianne, aku memang baru mengenalmu sebentar. Aku juga percaya padamu. Hakmu untuk marah jika kau memang merasa terganggu seperti yang kau katakan. Dan yang perlu kau ketahui, Phil tidak mengeroyokmu. Anak-anak perempuan tadi adalah penggemar—tidak, anak-anak yang naksir Phil. Itu semua hanya salah paham. Sekali lagi, SALAH PAHAM,“Arianne membiarkan Yusuke bicara sampai selesai dan membuat ekspresinya biasa saja, hingga sampai ke akhir kalimat. Seringainya muncul mendengar kata-kata Yusuke. "Naksir, Yusuke?" tanyanya dengan cengiran lebar yang jarang sekali ditunjukkannya, "Umur mereka berapa sih? Hahaha... Aku tidak tahu bahwa di Inggris umur sebelas tahun sudah mulai rebutan cowok," katanya, tangannya menyingkirkan rambutnya yang terbang menutupi wajahnya. "Aku tidak akan menyudutkan Blanche kalau dia tidak menggangguku, dan tidak akan menuduh orang lain dengan cepat kalau tidak ada kepastian," sambung Arianne. "Mau kembali ke kastil?"
Dicabutnya tongkat sihirnya yang disembunyikan di caku roknya, dan dilambaikannya tongkat itu. "Wingardium Leviosa," ujarnya berirama, dan tasnya yang tergeletak di tanah segera melayang menghampirinya. Arianne menangkap tas itu, dan menyelempangkannya di pundaknya. Ia memandang dingin Chastain yang masih berdiri di tempatnya semula, entah apa yang dilakukannya sejak tadi, dan mengalihkan pandangannya ke kasti. Ditariknya tangan Yusuke sambil berjalan, "Ayo kita pergi!"

Saturday, April 19, 2008
4:46 PM
Sorting Hat
Perjalanan dengan perahu tadi tidak terlalu buruk, meskipun Arianne tidak suka dengan pemandangan air yang gelap. Malam ini Arianne lebih banyak diam, tidak ingin mengobrol sepatah katapun dengan 'teman' seperjalanannya. Ia lebih berusaha menikmati perjalanannya tanpa banyak cingcong. Arianne ternyata tidak benci dengan jenis alat transportasi yang satu ini. Goyangannya membuat Arianne merasa dalam ayunan, atau merasa bahwa dirinya sedang menari dan goyangannya menstimulasi suara indah bergaung di telinganya, entah suara apa itu. Sayangnya dalam hitungan menit, perjalanan harus berakhir.
Sang raksasa membawa anak-anak kelas satu ke sebuah kastil hitam menyeramkan -karena saat itu sudah malam, mengetuk pintunya tiga kali sebelum si pintu terbuka, dan membawa mereka masuk ke dalam sebuah Aula yang penuh dengan anak-anak yang duduk di sekeliling empat meja panjang, sepertinya mereka adalah anak-anak yang lebih tua dari Arianne. Arianne sama sekali tidak berhenti untuk memandang mereka, atau memandang langit-langit sihir yang terlihat bagaikan suasana di luar, atau bahkan untuk mengomentari lilin-lilin terbang atau hantu-hantu transparan yang unjuk kebolehan. Sekali lagi, ia sudah membacanya sedikit di buku sejarah yang dibelinya, juga di buku panduan yang dituliskan oleh Maurice yang entah bagaimana mengetahui keadaan di Hogwarts. Maurice tidak pernah bercerita kalau dia pernah bersekolah di Hogwarts juga. Arianne selalu menganggap Maurice adalah lulusan Beauxbatons, dan Maurice tidak pernah membantah hal itu.
Anak-anak berhenti berjalan. Arianne ikut berhenti dan berdiri dalam barisan, mengikuti anak-anak lain. Sepertinya mereka akan diseleksi masuk asrama, seperti yang tertulis dalam bukunya Maurice. Arianne berusaha tidak berisik dan berbisik-bisik bodoh seperti yang dilakukan anak-anak lain, yang kagum hanya karena lilin terbang. Arianne memang jarang sekali melihat demonstrasi sihir, karena Maurice amat jarang menggunakan sihirnya di lingkungan Muggle tempat tinggal mereka. Namun ia juga tidak dengan norak ber-ooh dan ber-ahh ria, kalaupun ia melakukan hal itu, hanya dalam hati.
Si Topi Seleksi -begitu sebutannya- akhirnya mulai bernyanyi, melantunkan lagu anehnya. Arianne mendengarkan dengan baik, dalam hati heran dengan lagu bodoh si topi seleksi, tapi berusaha tak ambil pusing. Ia bercerita tentang keempat asrama yang ada di Hogwarts itu, dan kualifikasi yang diinginkan dari murid-muridnya.
Gryfffindor yang pemberani dan perkasa, Arianne menelengkan kepalanya sedikit, tak merasa terlalu berani ataupun perkasa. Lain halnya kalau misalnya ia ditantang, maka Arianne akan berani menerimanya, apapun itu.
Ravenclaw yang cerdas dan suka belajar, Arianne mengernyitkan dahinya kini,
bagaimana Topi itu bisa tahu aku suka belajar atau tidak? Jangan-jangan ia mengintipi kamarku setiap malam dengan sihir? Juga melihat rapor sekolahku? batinnya agak gusar, melihat sedikit fakta bahwa ada sesuatu yang di luar kendalinya.
Hufflepuff yang ramah, jujur, dan setia, yeah, Arianne setia pada apa yang dipegangnya, tapi ia terkadang tidak jujur. Juga kadang menatap galak orang yang tidak disukainya. Apa asrama yang ini mau menerima Arianne?
Dan Slytherin yang ambisius dan... Darah Murni?
Oh, yang benar saja? Jadi sekolah ini juga membeda-bedakan orang berdasarkan Darah? Seperti anak Prancis yang di bar itu? Arianne menarik tepi samping jubahnya dengan agak keras, kesal dengan sesuatu yang lagi-lagi baru diketahuinya. Maurice tidak menyebutkan ada kualifikasi darah begini.
Maurice tidak tahu apa-apa, kalau begitu, katanya menghela napas agar tidak kesal, akhirnya pasrah saja karena ia tidak bisa mengubah kenyataan itu.
Sudahlah, Arianne tak terlalu peduli tentang hal itu, tentang akan dimasukkan ke asrama mana ia, yang penting cepat selesai, karena berdiri bagai disorot seribu lampu di tengah panggung begini membuatnya jengah. Karena mereka diperhatikan seperti itu bukan karena prestasi atau hal yang hebat, tapi cuma sebagai tontonan anak-anak yang penasaran. Ia juga sudah agak lapar. Meskipun begitu, sedikit kesadarannya menarik-nariknya, penasaran dengan apa yang dilakukan topi itu. Maksudnya, bagaimana bisa sebuah topi hidup dan bernyanyi, memiliki otak dan kemampuan untuk memilih dan memasukkan seorang anak ke asrama yang cocok untuknya? Misteri ini tidak ada di buku yang ia baca maupun dalam penjelasan Maurice. Mungkin Maurice melewatkan menceritakan bagian itu? Ah, tapi sepertinya Mauricepun tak tahu.
Arianne berusaha menunggu dengan sabar, satu-persatu nama dipanggil. Ia mendengarkan nama-nama itu, mungkin salah satunya akan menjadi teman seasramanya. Mungkin mereka akan jadi temannya, kalau mereka tidak bersikap menyebalkan. Bosan, matanya memandang langit-langit yang disihir seperti langit di luaran. Mantra apa yang digunakan? Sepertinya Arianne juga tidak membaca mengenai hal itu di salah satu bukunya. Kenapa buku-bukunya ternyata tidak lengkap? Percuma ia membawa buku-bukunya kalau begitu. Sepertinya memang sejak awal seharusnya buku-buku itu ia buang. Hingga akhirnya, "Ravell, Arianne." Namanya dipanggil.
Kakinya melangkah mantap, meskipun dalam hati ia sedikit gentar. Sedikit, hanya sedikit ia cemas memikirkan ke asrama mana ia akan dimasukkan. Namun didorongnya jauh-jauh pikiran itu, asrama manapun jadi dan tak buruk untuknya. Semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Arianne memasang topi itu di kepalanya, yang langsung melorot melewati matanya, menutupi pandangannya. Dan pikirannya seakan tersapu, kesadaran lain seakan memasuki kesadaran miliknya.
Oh, cepatlah! Tak usah buang waktuku! Masukkan aku ke mana saja yang kau suka! Tapi kuharap kau mau menjawab pertanyaanku setelahnya, bagaimana caranya kau bisa berpikir dan memilih kemana anak-anak baru ke asrama yang cocok bagi mereka seperti ini? Maksudku... Apakah mereka benar-benar membelah kepala mereka dan mengeluarkan otak masing-masing untuk diberikan padamu? pikirnya cepat, tahu bahwa topi itu akan 'mendengar'nya.

4:44 PM
Menembus Palang Rintang - Kompartemen Lima
Arianne tak pernah menyukai mobil. Tak pernah, meski dalam bentuk yang berbeda. Namun untuk kepentingannya ke Hogwarts, sekali lagi ia bersedia mengalah. Dengan pasrah menaiki kendaraan gila bernama Bus Ksatria, menuju King's Cross.
Meskipun cara jalannya sangat mengerikan -berjalan tak tentu kecepatannya dan meledak-ledak setiap kali akan berhenti atau jalan- namun Arianne mengakui bahwa cara bepergian ini cepat dan efektif. Ia hanya perlu membayar empat belas sickle, menutup mata dan berpegangan erat sepanjang perjalanan, dan dalam waktu beberapa belas menit, ia sudah bisa menurunkan kopernya dari bus terkutuk itu.
Stasiun benar-benar penuh. Troli yang dibawa Arianne berkali-kali menyenggol orang-orang yang berselisih jalan dengannya, namun tidak ada insiden berbuntut panjang karena hal itu, orang-orang terlalu sibuk sehingga saling bertukar gumaman maaf sudah cukup bagi mereka untuk saling memaafkan dan melupakan kesalahan. Lima belas menit sebelum pukul sebelas siang, Arianne sudah sampai di depan palang rintang antara peron sembilan dan sepuluh, rambutnya yang tergerai dan hanya ditutupi topi agak berantakan karena tertiup angin, helai-helai rambutnya juga menempel pada dahinya atau pipinya karena peluh.
Maurice -seperti biasa- memberi instruksi berulang-ulang tentang apa yang harus dilakukan Arianne, membuatnya jengkel. Meski Arianne tahu bahwa Maurice hanya memperhatikannya, namun menurutnya Maurice terlalu berlebihan. Arianne tidak bodoh sampai-sampai harus diberitahu berulang -tiga puluh- kali begitu. Ia bahkan sudah berniat membuang semua bukunya ke tempat sampah, karena setelah membaca sekali Arianne telah mengerti semua isinya. Mengerti, bukan hapal. Tapi Maurice yang sepertinya sudah mengerti dengan watak Arianne mengiriminya surat semalam, melarang keras Arianne untuk membuang buku-bukunya karena Arianne akan memerlukannya. Arianne mengeluh pelan. Kopernya tambah berat.
Yang harus dilakukannya sebenarnya mudah. Dan dilakukan Arianne dengan sukses. Arianne berjalan santai mendorong trolinya menuju ke tembok kokoh itu, sambil memejamkan matanya, dan ia sama sekali tak merasakan dirinya membentur suatu penghalang, hanya perubahan atmosfer sedikit, dan kegelapan pekat yang menyelubunginya, membawanya...
... ke Peron sembilan tiga perempat yang sudah ada di hadapannya saat Arianne membuka mata, merasakan kehangatan dan kegelapan yang tersingkap darinya. Terlihat oleh matanya sebuah kereta besar, kereta yang akan membawanya ke Hogwarts, yang disebut Hogwarts Express.
Kereta uap merah tua itu telah penuh sesak, dijejali, masuk dan keluar para penumpang dari dan ke dalamnya. Kebanyakan didominasi oleh anak-anak berumur antara sebelas hingga delapan belas tahun. Sebagian besar dari mereka nampaknya diantar oleh orangtua atau kerabat mereka. Arianne berjalan melewati mereka tanpa melirik sedikitpun, tanpa perubahan ekspresi yang berarti dari dirinya yang biasa, cukup ramah, namun tanpa senyum. Ia berjalan tetap dinamis dan luwes bersama trolinya menuju salah satu pintu kereta.
Arianne mencoba mengangkat kopernya ke atas kereta saat ia telah sampai di ambang pintu salah satunya. Tidak bisa, terlalu berat. Dalam hati ia merutuk, menyesali kenapa ia mematuhi nasihat Maurice. Seharusnya ia membuang saja buku-buku pelajaran yang tidak diperlukannya itu. Tapi sekarang sudah terlambat, ia tak bisa membuang buku-buku itu di sini, orang-orang akan memandangnya aneh. Lagipula kasihan Maurice yang sudah mempergunakan uangnya untuk membeli buku-buku Arianne. Arianne tahu bahwa itu uangnya sendiri, benar-benar uang Maurice, karena Arianne mengambilnya dari lemari besi Maurice. Bukan berarti orangtua Arianne tidak meninggalkan uang bagi Arianne, mereka punya lemari besi sendiri yang diwariskan padanya, namun... karena suatu hal, Arianne tidak ingin memakainya. Maurice sendiri bersikeras agar Arianne menjadi tanggung jawabnya sehingga itu berarti Arianne dibiayai olehnya. Dan Maurice sudah jelas bekerja keras untuk bisa memenuhi kebutuhannya dan Arianne setelah orangtua Arianne meninggal, sampai-sampai ia tak bisa mengantar Arianne untuk ke Diagon Alley dan ke King's Cross. Tetapi Arianne maklum, dan ia memang bisa melakukan ini sendiri, tak masalah.
Tak ada jalan lain lagi. Arianne memutar sedikit otaknya, dan menemukan jalan keluar. Ia menjejakkan kaki ke atas kereta, membiarkan kopernya berdiri di bawah. Setalah mampu berdiri tegak di atas, Arianne melingkarkan satu tangannya ke pegangan yang ada di pintu kereta, sementara tubuhnya dibungkukkan agar tangannya yang satunya bisa menggapai kopernya. Dapat! Arianne menariknya sekuat tenaga, dan... untungnya kopernya berhasil dinaikkannya ke kereta. Rupanya kebiasaannya lari pagi dan setiap hari bermain-apapun-dengan-teman-temannya membawa dampak yang positif.
Arianne berjalan menyusuri koridor kereta sambil menarik kopernya yang beroda. Ia mengintip setiap kompartemen yang dilaluinya, rata-rata sudah terisi beberapa orang. Hingga akhirnya Arianne menggeser pintunya dan masuk, mendudukkan dirinya di kursi dekat jendela dan membiarkan kopernya di dekat kakinya. Ia tak bisa menaikkan koper berat itu, mau bagaimana lagi? Lebih baik tetap disimpan di bawah, kan. Arianne menyibakkan rambut panjangnya ke belakang, membuka topinya, dan mengusap peluh yang sedikit mengucur di dahinya. Ia merapikan rambutnya sedikit, memakai kembali topinya dan sambil bertopang dagu pada sandaran tangan, ia menatap keluar kompartemen melihat keramaian di luar kereta.

4:36 PM
Silent Night
Malam itu sepi. Keheningan serasa merajai seakan mengetahui ketegangan seorang gadis kecil yang akan menyongsong takdir besarnya esok lusa. Arianne duduk di tepi jendela di lantai dua, di luar kamarnya, memandang jalanan Muggle di bawahnya yang nampak hiruk pikuk, namun suaranya tak sampai pada Arianne. Meski hanya dihangatkan jaket hitamnya, namun Arianne tak bergeming dari tempatnya, ekspresi tenangnya tetap terjaga meski hatinya gelisah.
Tanggal satu September pukul sebelas siang Arianne akan menaiki kereta api menuju Hogwarts. Ia sudah mengepak pakaiannya dan barang-barangnya dengan cermat. Ia telah membaca semua buku yang dibelinya di Diagon Alley. Ia sudah menyusun garis besar rencana apa yang akan dilakukannya di Hogwarts tahun ini. Singkatnya, Arianne sudah mempersiapkan semua hal yang diperlukannya untuk menjalani tahun ajarannya di Hogwarts. Sekilas, semua ini tampak baik dan terencana. Bahkan lebih dari yang bisa diharapkan dari seorang gadis kecil untuk bisa dilakukannya; anak-anak lain mungkin hanya mengepak dan melakukan hal-hal lain itu atas perintah orangtuanya. Atau lebih buruk lagi, mereka masih mengandalkan orangtuanya atau pelayannya (biasanya para bangsawan sok yang melakukan ini) untuk melakukan semua itu. Arianne sangat gugup untuk esok hari. Well, itu wajar bukan? Setiap anak akan 'demam tinggi' saat masuk di hari pertama ke sekolah barunya? Yeah, seandainya saja begitu.
Namun bagi Arianne, semuanya jauh lebih sulit dan rumit. Lebih menyesakkan daripada disuruh membaca sebuah buku tebal tentang transfigurasi benda mati menjadi benda mati lain bentuk dan harus mengerti isinya dalam sekali baca. Lagipula Arianne memang sudah melakukannya semalam. Mudah. Tidak, baginya pergi ke Hogwarts jauh, jauh lebih menimbulkan kegugupan dibanding yang bisa dirasakan anak lain. Kepergiannya kali ini akan mengubah hidupnya, karena itu berarti ia memutuskan untuk menentang keluarganya, keluarga jauhnya yang sama sekali tak dikenalnya.
Ayah Arianne adalah seorang penyihir sejati, namun sayangnya ibunya adalah squib. Keluarga besar ayahnya, sama sekali tak menyukai kenyataan ini. Merupakan aib memiliki seorang yang tak becus dalam keluarga. Tidak, mereka bukan keluarga bangsawan, tapi jelas squib bukanlah pilihan bagus untuk dimasukkan dalam silsilah keluarga Ravell. Karenanya, Alain -ayah Arianne- diminta -atau dipaksa- memilih, keluarganya, atau wanita itu. Alain memilih Florence, yang itu berarti mereka memutuskan hubungan keluarga, selamanya, sampai ke keturunan-keturunannya.
Arianne mengetahui semua ini dari Maurice, sepupunya. Maurice adalah saudara jauh dari Alain, tinggal sendirian di Amerika setelah lulus sekolah, meninggalkan keluarganya untuk pendewasaan diri, dan mengambil Arianne saat orangtuanya meninggal. Saat itu usia Maurice barulah sembilan belas tahun, dan Arianne berusia lima tahun. Semenjak mengetahui kisah itu, Arianne membenci ayahnya, membenci ibunya, dan terlebih, membenci keluarga ayahnya yang berpikiran sempit. Mereka membuat Arianne kehilangan orangtuanya, membuatnya tak bisa mengecap kebahagiaan memiliki keluarga besar dan bercengkrama bersama sepupu-sepupunya, dan lebih jauh lagi, Arianne membenci orangtuanya karena tak mau hadir untuknya. Baginya kini, keluarganya hanyalah Maurice, tak ada lagi yang lain. Ia sama sekali tak akan mempedulikan keluarga yang telah membuangnya. Ia membenci para Prancis menyebalkan, angkuh, dan arogan itu.
Arianne tak terlalu terkejut saat mendapati bahwa ia penyihir. Ia tahu bahwa hal ini mungkin terjadi, ayahnya penyihir dan ibunya memiliki darah penyihir. Tapi betapa terperanjatnya ia tatkala Maurice menghampirinya sore itu setelah Arianne mendapatkan surat Hogwartsnya. Memintanya memilih, melanjutkan ke sekolah menengah Muggle, atau menerima undangan dari Hogwarts, dan kemudian pergi ke Prancis untuk bertemu keluarga ayahnya, yang akan menerimanya kembali asalkan ia berkualitas sebagai penyihir.
"Dan kenapa aku tidak bersekolah di... Beubbatongs?" tanya Arianne, raut wajahnya agak mengeras, namun kemudian normal kembali dan suaranya tertekan hingga terdengar seperti biasa. Raut wajahnya kembali ber'topeng', cuek."Beauxbatons. Kau mendapatkan undangan dari Hogwarts, bukan dari Beauxbatons, meski aku curiga itu atas campur tangan kakekmu sehingga mereka tidak mengirimimu su--""Kalau begitu sudah jelas. Mereka tidak menginginkanku!" teriak Arianne keras, seketika, dan ia segera berlari keluar rumah.Memang saat itu ia berperilaku buruk pada Maurice, namun akhirnya ia mengiyakan juga. Arianne tak ingin mengecewakan Maurice yang selalu menjaganya, dan ini salah satu jalan yang diketahuinya bisa membahagiakan Maurice. "Kalau begitu, aku akan berangkat! Aku menepati janjiku, Maurice!" ujarnya agak keras, pada dirinya sendiri.
***
Tekadnya untuk berangkat ke Hogwarts telah bulat, dan suaranya yang meyakinkan itu telah mengikrarkan janji untuk bertahan di sana. Arianne menatap bayangan dirinya sendiri yang terpantul di jendela bangunan itu.
Tiba-tiba, terdengar suara derap langkah kaki, dari suaranya Arianne tahu itu suara manusia. Namun ia mengabaikannya, tetap memandang kekelaman di luar. Ia telah terbiasa memperhatikan semuanya atau sebaliknya, mengabaikan sekitarnya. Tapi setelahnya, Arianne merasakan ada yang memegang pundaknya dan memutar tubuhnya, kemudian...
PLAK! PLAK!"Hei! Sadarlah! Sadarlah! HEI SETAN! JANGAN GANGGU DIA! CEPAT KELUAR DARI TUBUHNYA!" Vinzzz berteriak dengan tegas tapi tidak terlalu kencang agar tidak mengganggu yang lain.Arianne terhenyak beberapa saat ketika tubuhnya diputar oleh seorang anak laki-laki yang dikenalinya sebagai anak yang bekerja di penginapan itu. Dan baru tersadar ketika pipinya ditampar keras. Kedua pipinya. Ia sangat terkejut sehingga tak bisa bereaksi segera setelah ditampar. Yang bisa dilakukannya hanyalah mengerjapkan mata dua kali sambil memandang bingung pada si anak laki-laki.
BRUSTT!Vinzzz menyemprotkan air yang tadi diminumnya ke muka anak itu. Berharap ia cepat sadar dari kesurupan itu. Vinzzz menaruh gelas itu di lantai kemudian berkata dengan khawatir."Kau tidak apa-apa?"Air dingin menerpa wajahnya, membuatnya langsung tersadar. "Aaaaaaaaaaaaaaaaargghh, apa yang kau lakukaaaan?!" Arianne berteriak keras sambil memukul keras puncak kepala anak-laki-laki yang menyemprot wajahnya dengan tangannya yang terkepal. Semoga sakit. Arianne langsung menarik tangannya dan menyentuh pipinya yang memerah akibat ditampar, juga basah. Air apa sih yang dia gunakan?
Arianne mengingat-ngingat apa yang diucapkan dengan tidak jelas oleh anak laki-laki itu, Setan? Apa maksudnya? "Kau yang setan!" sergah Arianne sambil menatap kesal si anak-laki-laki itu, masih memegang pipinya yang sakit.
***
Pipi Arianne benar-benar terasa sakit. Ia bahkan bisa merasakan panasnya, tahu bahwa pasti telah ada bekas merah membentuk telapak tangan di situ. Ada apa sih dengan anak itu? Kenapa berteriak-teriak seperti orang gila? batin Arianne sambil masih memandangi anak laki-laki itu dengan kesal. Kalau saja ia tidak tahu anak laki-laki ini bekerja di sini, mungkin Arianne sudah menendangnya hingga terjengkang atau pingsan.
"TOLONG! TOLONG! ADA ORANG YANG MAU DIBUNUH! ADA MANIAK YANG MAU MEMBUNUH!"Arianne menoleh, seorang anak laki-laki lain yang berambut agak jigrak muncul di tangga dan tiba-tiba berteriak soal pembunuhan. Arianne membeku sesaat.
Pembunuh?! Jangan-jangan, anak laki-laki ini yang maniak pembunuh? Arianne benar-benar tak bisa bergerak, ketakutan menjalari tubuhnya. Dan sepertinya anak laki-laki berambut agak jigrak benar. Anak-laki-laki tukang tampar ini tertawa mengerikan, kemudian berteriak.
"APA? APA? SIAPA PEMBUNUH?" Vinzzz menghampirinya kemudian memegang pundaknya dan menggoyangkannya. Vinzzz dengan cepat mengambil tongkat sihir dan mengeluarkan mantra,"PETRIFICUS TOTALUS!" Seketika anak itu diam dan tidak berteriak-teriak lagi. Vinzzz memperhatikan gadis yang tadi kesurupan itu masih diam. "ALOHOMORA!" Pintu itu terbuka. Vinzzz mengangkat karung berisi anak itu kemudian memasukan anak itu kedalam dan menutup pintu itu kembali.Rangkaian kejadian itu berlangsung sangat cepat. Arianne hanya bisa menyaksikannya dnegan mulut menganga dan tangan memegang pipinya yang merah bekas ditampar. Bayangan mengerikan mulai muncul di kepalanya. Kengerikan melintas di hatinya, meratap. Apakah malam ini adalah malam terakhir hidupnya? Ya ampun, jangan! Arianne baru saja ingin pergi ke Hogwarts, untuk masa depannya dan juhga untuk menyenangkan Maurice. Ia tidak mau mati sekarang, apalagi di tangan maniak begini. Jangan.. Jangan...J
angan, jangan, aku tidak mau mati... Tolong aku, Maurice... Pikirannya akhirnya terbawa pada racauan dalam hatinya, memohon bantuan entah pada siapa. Tapi sepertinya ratapannya -atau mungkin doanya- tidak terkabul.
Si anak laki-laki menepuk kedua tangannya dan mendekati Arianne lagi sambil bertanya apakah Arianne sudah sadar atau belum. Tangannya sudah siap di udara. Arianne tak ragu lagi dengan niatnya. Anak itu pasti berniat menyakiti dan menyiksa Arianne lagi. Arianne memandangnya dengan sorot mata takut kali ini.
"Ada apa sebenarnya?!" dia meminta penjelasan mereka.Terdengar suara seorang anak perempuan kini, membuat Arianne menoleh ke arahnya namun tidak menurunkan tingkat kewaspadaannya dari si anak laki-laki. Arianne tidak mau mati dicekik oleh anak itu. Arianne segera bangkit dari tempat duduknya dan berlari menjauhi anak laki-laki maniak pembunuh itu sekaligus mendekati si anak perempuan.
"Tolong! Tolong, ada maniak pembunuh yang lepas dari St. Mungo!" teriaknya asal sambil bersembunyi di belakang anak perempuan itu, memandang takut pada si anak laki-laki. "Lakukan sesuatu! Sihir dia jadi kodok! Bakar dia! Kutuk dia dengan Kutukan Pencekik Leher! Cekoki dia dengan Ramuan Penenang atau Ramuan Tidur! Cepat lakukan sesuatu, atau kalau tidak dia akan membunuh kita berdua!" racau Arianne sambil mengcengkeram tangan si anak perempuan. Ia menyebutkan semua metode yang terlintas di pikirannya untuk melumpuhkan si maniak pembunuh. Meskipun ia tidak tahu bagaimana caranya melakukan kutukan-kutukan itu, ataupun tentang bentuk nyata Ramuan-ramuan yang disebutkannya tadi. Atau bagaimana rupa St. Mungo. Ia mengetahuinya dari buku-buku yang baru saja dibelinya di Diagon Alley yang semuanya sudah selesai ia baca, dan dari buku-buku milik Maurice.
Maurice, tolong aku... batinnya lagi dengan pilu.
***
Arianne membeku diam di samping anak perempuan berambut hitam itu, mencengkeram tanganya erat sambil tak melepaskan tatapannya dari si anak laki-laki maniak pembunuh. Yang kemudian mendekati Arianne sambil mengeluarkan tatapan aneh dan mengambil kain pel serta membasuhnya dengan air dalam ember. Kemduian si anak laki-laki mendatangi Arianne. membuatnya makin kaku tak bisa bergerak.
Tangan si anak laki-laki semakin mendekat pada Arianne yang memandangnya takut, kemudian menutup matanya -satu-satunya bagian tubuhnya yang bisa bergerak- dan menunggu apa yang terjadi. Anak laki-laki itu... mengelap mukanya? Dia memang sudah gila. Kini Arianne sudah tak ragu lagi. Arianne memicingkan mata saat kain lap itu sudah tak dirasakannya lagi ada di wajahnya. Apa yang direncanakan anak laki-laki itu? Mencekik Arianne dengan kain pel itu?
Dan tiba-tiba... kain pel itu sudah melayang dilempar oleh anak laki-laki maniak pembunuh itu dan si kain mendarat di muka Arianne. Membuat wajahnya makin basah. Arianne memejamkan matanya lagi saat kain itu mengenai wajahnya sementara debar jantungnya makin kencang. Tangannya segera bergerak mengambil kain lap itu, dan dilihatnya lagi si anak laki-laki, membuka kamar dan mengambil karung berisi anak laki-laki berambut jigrak, kemudian mencekokinya dengan air dalam ember itu.
"Kau tidak apa-apa teman? Lain kali jangan berteriak disini terutama di malam hari. Saya hanya menolong dia yang kesurupan." Vinzzz berkata dengan tegas kepadanya."Dan kau Nona, apa kau sudah sadar sekarang? Aku rasa kamu perlu beristirahat. Atau kau memerlukan yang lainnya?"Maniak! Maniak! Arianne terkejut saat anak itu bertanya padanya apa dia sudah sadar dan memerlukan yang lain. Anak itu mau menyiksanya lagi! Arianne semakin menyembunyikan dirinya di belakang anak perempuan yang ada di depannya. Arianne menggeleng cepat dan melepaskan tangannya dari tangan di anak perempuan, sekarang bersembunyi di belakang punggungnya. Ia merasa matanya panas, dan ia ingin sekali Maurice ada di sini menolongnya.
Dari balik bahu si anak perempuan, Arianne melihat anak laki-laki yang rambutnya agak jigrak agak bergerak, kemudian mendorong si anak laki-laki gila dan buru-buru kabur. Bagus, dia bisa kabur, sekarang bagaimana nasib Arianne, ia sasaran empuk satu-satunya sekarang.
Anak perempuan di depannya menoleh dan bertanya apa Arianne baik-baik saja. Tentu saja tidak, ya ampun, batin Arianne miris, namun ia tetap tak bisa terkata-kata. Si anak perempuan berjalan menjauhi Arianne, membuat Arianne tercekat dan ingin berteriak mencegahnya, namun suaranya tersegel. Anak perempuan itu bisa-bisa dibunuh. Arianne menatapnya panik. Namun rupanya anak perempuan itu yang pegang kendali.
PLAKK!!! PLAKK!!! PLAKK!!! "Kamu. Bisa jelaskan apa yang kamu lakukan?! Tindakanmu itu kejam. Tidak baik melakukan tindakan sekasar itu. Apa lagi kamu adalah pekerja di penginapan bukan? Memangnya atasanmu mengajarkan untuk bersikap seperti itu kepada tamu?""Bisa-bisa semua tamu kabur dengan pelayanan yang seperti ini. Memangnya kamu mau dipaksa meminum air kotor seperti anak laki-laki tadi? Atau dibasuh wajahnya dengan kain pel seperti anak perempuan itu?"Anak perempuan itu menampar keras si anak laki-laki gila. Dan memarahinya dengan tegas. Arianne menyaksikan pemandangan itu dengan terkejut. lega bahwa ada yang bisa mengendalikan anak laki-laki itu. Tak disangka perasaan panas tadi mendesaknya, dan air matanya pun keluar. Awalnya hanya butir-butir bening saja yang mengalir, namun beberapa saat kemudian isakan juga mulai keluar dari mulutnya. Arianne menghapus air matanya yang terus saja berjatuhan dan menekap mulutnya supaya suaranya tidak terdengar oleh si anak laki-laki maniak dan membuatnya sadar bahwa Arianne masih ada di situ, tapi yang terjadi malah isakannya masih keras. Arianne bahkan mulai menyebut-nyebut nama sepupunya, "Hiks ... hiks... Maurice, tolong aku..." Ia takut kalau anak laki-laki itu bisa melepaskan diri dari si anak perempuan.
Aku harus kabur. Aku harus segera pergi, batinnya. Dan itulah yang dilakukannya. Arianne mundur beberapa langkah, dan berbalik kemudian berlari sambil masih terus menangis.
***
Si anak laki-laki aneh yang menampar Arianne tadi mengejar Arianne, dan karena lorong itu kecil, ditambah kenyataan bahwa ia adalah anak laki-laki, maka dengan mudah ia dapat menangkap Arianne. Anak itu menariknya ke lantai atas, menaiki tangga demi tangga hingga sampai ke anak tangga teratas. Arianne hanya bisa pasrah diseret begitu, hanya melempar pandang tak berdaya pada si anak perempuan yang sudah meloloskan anak laki-laki gondrong ini.
Begitu sampai, anak laki-laki itu tiba-tiba bertanya,
"Sebenarnya mengapa kamu berlari Nona?" Arianne tercengang, matanya membelalak meskipun air matanya tetap mengalir. Runtuh sudah semua ketegaran dan topeng yang biasa dikenakannya. Kenapa anak itu masih juga bertanya, setelah semua perlakuan buruk yang dilakukannya pada Arianne? Yang membuatnya lebih tercengang, tiba-tiba anak itu berdiri dan memperagakan gaya aneh sambil berkata,
"SADEWA PERGI KE PASAR!!! Ting Tang Ting Tung Ting Tang Ting Tung Tinga Tang Tung," Setelah berhenti anak itu tersenyum sambil menatap Arianne, membuat Arianne terpaksa balas tersenyum kaku padanya, sebagian karena tingkahnya bergerak tadi, sebagian lagi karena takut senyum yang tadi akan berubah jadi seringai mengerikan yang mengatakan kutampar-kau-lagi-sekarang-juga.
"Biar kupanggil dirimu Sarimin saja ya? Eh...Maksudku Dewi Persik, loh bukan-bukan itu!""Aha! Kupanggil dirimu AMELIA saja ya, bukan Amelia Bones si gadis teman prefek berdada bidang itu yang dengan polosnya mengurangi poin Asrama Hufflepuff. Tapi Amelia saja."Arianne masih bengong mendengar kata-kata si anak laki-laki yang tadi menamparnya itu, apa namanya... Sadewa? Itu sebuah nama? Anak itu mencari-cari nama panggilan untuk Arianne, mengganti-gantinya dengan nama-nama yang aneh, sampai pada akhirnya memutuskan memanggilnya dengan nama Amelia saja. Arianne mengangguk bego dan membiarkan saja anak laki-laki itu memanggilnya begitu. Selanjutnya anak itu malah menyanyi sambil bergaya. Dua kali pula.
"Jadi? Sekarang kamu mau cerita mulai dari yang kau lakukan di jendela, berlari saat diriku ditampar dan juga Maurice. Ya?" Vinzzz mengangkat alisnya.Arianne ingin sekali tertawa tergelak kalau saja tidak sedang terperangkap situasi seperti ini. Gayanya saat menyanyi itu konyol dan menggelikan sekali. Namun sayangnya kondisinya sedang tidak memungkinkan. Arianne menggeleng cepat ketika anak itu memintanya bercerita, dan buku-buru lari menuruni tangga sebelum ditangkap lagi oleh anak itu. Ditemukannya pintu kamarnya, dan buru-buru dimasukinya kamar itu. Dibantingnya pintu kamar itu dan dikuncinya segera dari dalam.
